Memanggil siswa dengan sebutan kasar?



Guru Memanggil Siswa dengan Sebutan Kasar: Pelajaran Penting tentang Etika dan Pendidikan Beradab



Pendahuluan

Sekolah adalah tempat membentuk karakter, bukan hanya tempat mengajar pelajaran akademik. Di dalamnya, hubungan antara guru dan siswa seharusnya dilandasi oleh rasa hormat, kasih sayang, dan tanggung jawab moral. Namun, dalam beberapa kasus, muncul tindakan yang mencederai nilai-nilai tersebut — misalnya ketika seorang guru memanggil siswa dengan sebutan yang tidak pantas seperti “anjing” atau kata-kata kasar lainnya.
Tindakan semacam ini menimbulkan perdebatan etika, hukum, dan psikologis yang perlu dipahami dengan bijak oleh semua pihak.


Mengapa Bahasa Guru Sangat Penting

Kata-kata guru memiliki kekuatan besar. Dalam psikologi pendidikan, ucapan seorang guru dapat memengaruhi:

  1. Harga diri siswa – Kata-kata kasar bisa melukai kepercayaan diri anak dan membuat mereka merasa tidak berharga.
  2. Motivasi belajar – Siswa yang dipermalukan sering kehilangan semangat belajar dan takut berinteraksi di kelas.
  3. Hubungan sosial – Penghinaan di depan teman sebaya dapat menciptakan rasa malu dan menjauhkan anak dari lingkungan sekolah.

Karena itu, etika komunikasi guru menjadi bagian tak terpisahkan dari profesionalisme seorang pendidik.


Dampak Kekerasan Verbal di Sekolah

Ketika guru menggunakan sebutan kasar seperti “anjing”, “bodoh”, atau “tidak berguna”, sesungguhnya terjadi kekerasan verbal. Dampaknya dapat berlangsung lama, antara lain:

  • Trauma emosional dan penurunan rasa percaya diri.
  • Kecemasan berlebih terhadap situasi belajar.
  • Rendahnya kepercayaan terhadap guru dan sistem sekolah.
  • Dalam kasus ekstrem, terjadinya perundungan lanjutan (bullying) oleh teman sebaya karena siswa sudah diberi label negatif oleh gurunya.

Sudut Pandang Guru

Tidak dapat dipungkiri, guru juga manusia. Tekanan kerja, jumlah siswa yang banyak, atau perilaku siswa yang menantang dapat memicu emosi. Namun, profesi guru menuntut kemampuan mengelola emosi dan tetap menjaga martabat peserta didik.
Guru seharusnya menjadi teladan — bukan hanya dalam hal akademik, tetapi juga dalam cara berkomunikasi dan menyelesaikan masalah.


Solusi dan Langkah Perbaikan

  1. Pelatihan Etika dan Komunikasi bagi Guru.
    Sekolah dan dinas pendidikan perlu rutin mengadakan pelatihan tentang komunikasi empatik dan pengelolaan stres bagi tenaga pendidik.
  2. Pendekatan Restoratif.
    Bila sudah terjadi kasus, pendekatan yang menekankan dialog, permintaan maaf, dan pemulihan hubungan lebih baik daripada sekadar hukuman administratif.
  3. Peran Kepala Sekolah dan Konselor.
    Kepala sekolah harus segera menindaklanjuti laporan siswa dan mengajak konselor sekolah untuk memberikan pendampingan psikologis.
  4. Pendidikan Karakter di Kedua Arah.
    Guru dan siswa sama-sama perlu belajar saling menghormati dan memahami batas perilaku yang pantas di lingkungan pendidikan.

Kesimpulan

Pendidikan sejati tumbuh dari rasa hormat dan kasih sayang. Ketika seorang guru terpancing emosi dan memanggil siswa dengan sebutan kasar, bukan hanya hati anak yang terluka, tetapi juga citra profesi guru dan semangat pendidikan itu sendiri.
Sekolah perlu menjadi ruang yang aman, di mana setiap kata yang keluar dari mulut guru menjadi sumber semangat, bukan luka.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

CONTOH WAWANCARA GURU DAN SISWA

modul kelas 5

Ciri-Ciri Guru yang Enggan Mendampingi Peserta Didiknya di Sekolah